Pekarangan sempit
Memanfaatkan pot, polybag, rak bertingkat, dan vertikultur di dinding atau pagar. Cocok untuk sayuran daun dan tanaman bumbu.
Mengenal P2B sebagai pendekatan pemanfaatan pekarangan untuk menghadirkan pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman bagi keluarga.
Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) adalah pendekatan pemanfaatan lahan pekarangan rumah, lahan tidur, dan ruang terbuka di sekitar permukiman untuk menghasilkan pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman bagi keluarga.
Berbeda dengan usaha tani komersial yang berorientasi pada jumlah produksi, P2B menempatkan kebutuhan konsumsi keluarga sebagai prioritas. Tanaman dipilih berdasarkan apa yang dimakan sehari-hari, ditanam secara bergiliran agar panen berlangsung terus-menerus, dan dikelola dengan cara yang mudah dipelajari.
Dalam praktiknya, P2B dijalankan melalui kelompok. Kelompok mengelola kebun bibit bersama, lahan contoh sebagai tempat belajar, serta mendampingi anggota menata pekarangan masing-masing.
Banyak rumah tangga di perdesaan maupun perkotaan memiliki pekarangan yang belum dimanfaatkan untuk produksi pangan. Di sisi lain, pola konsumsi sebagian masyarakat masih bertumpu pada makanan pokok dengan porsi sayur dan buah yang belum mencukupi.
Kondisi tersebut membuat keluarga rentan ketika harga bahan pangan naik atau pasokan terganggu. Pekarangan yang produktif menjadi penyangga sederhana: sebagian kebutuhan dapur tersedia di dekat rumah, segar, dan dapat dipanen sesuai kebutuhan.
Pekarangan tidak menggantikan peran pasar atau pertanian skala besar. Perannya adalah melengkapi, menambah keragaman, dan memberi keluarga kendali atas sebagian sumber pangannya sendiri.
Ketahanan pangan tidak hanya diukur di tingkat nasional atau daerah. Ketahanan yang sesungguhnya terasa di tingkat rumah tangga, yaitu ketika setiap anggota keluarga dapat memperoleh pangan yang cukup, bergizi, dan aman setiap hari.
Pangan ada dan mudah dijangkau, termasuk dari pekarangan sendiri.
Keluarga mampu memperoleh pangan tanpa membebani pengeluaran.
Pangan diolah dan dikonsumsi dengan cara yang mendukung gizi.
Pasokan tetap terjaga meskipun terjadi perubahan musim atau harga.
Setiap pekarangan memiliki potensi berbeda. Penataan disesuaikan dengan luas lahan, intensitas sinar matahari, ketersediaan air, dan kebutuhan keluarga.
Memanfaatkan pot, polybag, rak bertingkat, dan vertikultur di dinding atau pagar. Cocok untuk sayuran daun dan tanaman bumbu.
Kombinasi bedengan sayuran, polybag sayuran buah, bedeng bumbu, dan satu hingga dua pohon buah.
Ruang untuk tanaman umbi, pohon buah, tempat pengomposan, dan bila memungkinkan kolam ikan atau ternak unggas kecil.
Menanam berbagai jenis tanaman agar sumber gizi tidak bergantung pada satu komoditas.
Memprioritaskan tanaman yang melengkapi kebutuhan vitamin, mineral, dan serat keluarga.
Mengutamakan budidaya ramah lingkungan karena hasil panen langsung dikonsumsi.
Menjaga siklus bibit, tanam, panen, dan kompos agar kebun terus berproduksi.
Rencana dan keputusan disusun bersama anggota kelompok, bukan ditentukan sepihak.
Menggunakan benih, bahan, dan pengetahuan yang tersedia di lingkungan setempat.
Rincian manfaat untuk keluarga dan kelompok dibahas di halaman Penerima Manfaat, sedangkan arah yang ingin dicapai dijabarkan pada Tujuan Program.
Topik berikut saling berkaitan dan membantu memahami program secara utuh.